IMPARTIALITY
Impartiality merupakan suatu doktrin yang tidak memihak dalam pelaporan urusan publik di dalam media penyiaran. Impartiality (keadilan) merupakan sesuatu yang praktis dan pragmatis (berguna) dari sebuah penyesuaian diri (akomodasi) antara penyiar dan partai politik parlementer (terutama dalam pemerintahan dengan dua partai politik). Ini merupakan strategi dimana reporter seharusnya membuat laporan mengenai (i) pandangan dan pendapat secara menyeluruh; (ii) beban pendapar yang relatif (ini artinya bahwa pandangan yang tak dapat dipungkiri dan pandangan ortodoks (telah menjadi kebiasaan) menjadi prioritas terhadap tantangannya); (iii) perubahan yang terjadi dalam jangkauan dan beban opini dari waktu ke waktu.
Secara tradisional, impartiality harus dicoba ke dalam program. Dalam membuat suatu program kita tidak bisa terus mengupayakan penghasilan yang melimpah, kita juga harus menggunakan sisi kemanusiaan kita dalam memandang keterbatasan maupun keinginan karyawan sehingga terjadi keseimbangan antara tercapainya keinginan produser dengan karyawannya. Bagaimanapun, gagasan dari impartiality antarprogram adalah mendapatkan penerimaan. Idenya adalah bahwa jika pemirsa meminta pemerataan program, institusi media dapat memberinya hanya satu posisi dalam program acara tunggal, dan mengetahui bahwa orang lain akan memberikan pandangan berlawanan pada waktu yang lain. Pengembangan ini menghasilkan tekanan yang sebagian besar datang dari dari diri penyiar sendiri, dimana sebagian dari mereka yang menginginkan ‘jurnalisme yang diposisikan’ tidak menganggap harus memiliki sudut pandang sendiri. Jurnalis harus memeiliki sudut pandang sendiri dalam melihat suatu kebenaran dan mereka haruslah objektif, faktual, dan tidak berpihak. Sementara itu, Jurnalisme yang diposisikan tidak harus memiliki sudut pandang sendiri karena mereka ditentukan olrh atasan mereka.
Impartiality seringkali dibedakan dari dua konsep lain, yakni balance dan neutrality. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan mereka. Balance menjadi alokasi dari waktu yang sama untuk menentang sudut pandang, dimana sesuatu yang dikatakan kurang penting daripada waktu dimana kata itu dikatakan. Balance menunjuk pada keseimbangan proporsi berita. Neutrality merupakan pengaksesan yang tidak pandang bulu terhadap setiap sudut pandang tanpa prinsip pemilihan. Hal ini dianggap tidak memuaskan sebab politikus parlementer tidak ramah terhadap waktu siaran yang diberikan kepada kelompok yang ingin menggulingkan atau mengancam partai politik. Seperti halnya partai komunis, nasionalis, dan sosialis yang beroperasi diluar kerangka kerja parlementer aksesnya ditolak tanpa penyiar yang diijinkan – dan itu bukanlah hal yang netral. Hasilnya, doktrin dari impartialitas dapat dilihat sebagai penyangga utama dari sistem parlementer (dua-partai). Hal ini juga tentu merupakan sebuah keperluan peraturan yang menempatkan penyiar oleh parlemen.
Berita dan kabar terkini menggunakan prinsip keadilan, dengan demikian memastikan bahwa (batasan dan keseimbangan) cakupan suara itu diakses atas topik tiap orang sehingga setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh informasi.
Selasa, 01 Juni 2010
Sekilas Tentang Buku Menuju Masyarakat Komunikatif
Sekilas Tentang Buku Menuju Masyarakat Komunikatif
Dalam buku Menuju Masyarakat Komunikatif karya F. Budi Hardiman, saya baru mengetahui sedikit tentang Habermas dari sekian banyak paparan tentang beliau dalam buku ini. Banyaknya istilah yang menurut saya masih asing, dan bahasa yang cukup rumit membuat saya kurang begitu bisa memahami arti sebenarnya dari suatu kalimat. Diperlukan pemahaman istilah yang baik dan kesabaran dalam memahami isi buku ini.
Dalam bagian perspektif umum mengenai Habermas dan masyarakat Komunikatif, F. Budi Hardiman mencoba memaparkan ikhtisar dari apa yang akan diulas pada bab-bab selanjutnya di buku ini. F. Budi Hardiman mengemukakan dengan rinci pandangan-pandangan Habermas mengenai teori kritis, rasionalitas, perkembangan ilmu pengetahuan modern, perkembangan teknologi yang berujung pada munculnya ideologi baru, macetnya pemikiran Mahzab Frankfurt generasi pertama, dan lain-lain.
Mahzab Frankfurt yang dipelopori oleh Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse, melontarkan kritik-kritik tajam terhadap masyarakat industri maju pada tahun 1960-an. Mereka mengkritik salah satu asumsi dari kaum positivis yang menyebutkan bahwa ilmu-ilmu sosial itu bebas nilai, satu-satunya bentuk pengetahuan yang benar adalah pengetahuan ilmiah. Kritikan ini juga didukung oleh Habermas dengan mengatakan bahwa segala bentuk ilmu dijuruskan oleh kepentingan kognitif, karena itu tidak bebas-nilai. Demikian pula Teori Kritis yang didorong oleh kepentingan emansipatoris.
Mahzab Frankfurt memang kritis terhadap ketimpangan di masyarakat. Mereka mendorong terwujudnya emansipasi. Perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan modern justru membuat masyarakat semakin terpengaruh dan tergantung oleh hal-hal yang mekanistis seperti sistem ekonomi dan birokrasi. “Pencerahan” yang tadinya bisa terwujud dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern dan teknologi, malah membuat masyarakat semakin berpikir positivistic, menggunakan akal untuk mencapai tujuan. Rasio inilah yang disebut rasio instrumental.
Penampilan rasio kritis terlihat dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kedua hal tersebut telah menjadi mitos atau ideolodi baru. Masyarakat beranggpan bahwa kedua hal tersebut adalah hal yang harus diikuti. Hal ini membuat Marcuse melontarkan kritik dengan karyanya One-Dimensional Man. Dalam buku tersebut, masyarakat industri maju dilukiskan sebagai masyarakat berdimensi tunggal dan kehilangan dimensi kedua yakni perlawanan terhadap sistem. Hal ini menyebabkan masyarakat mengadaptasi dominasi perkembangan teknologi tersebut tanpa adanya perlawanan terhadap sistem tersebut. Ini artinya masyarakat terkendalikan oleh sistem perkembangan teknologi tersebut. Jika emansipasi yang dihasilkan oleh perkembangan tersebut menjadi sebuah dominasi baru, makan kritik pun menjadi sebuah alat dominasi.
Habermas memperkenalkan teori ktirisnya yang bernama Teori Tindakan Komunikatif tahun 1980-an. Teori ini kritis terhadap masyarakat modern yang tidak rasional karena semakin terbenam dalam pertumbuhan zaman yang tak terkendali. Selain itu, teori ini kritis terhadap pendekatan ilmiah yang tidak mampu menjelaskan rasionalisasi kemasyarakatan yang menganggap sistem sosial hanya sebagai objek. Habermas berpendapat bahwa rasio yang menempatkan kenyataan (rasio instrumental), baik masyarakat maupun alam sebagai objek, bukanlah satu-satunya rasio. Komunikasi adalah titik tolak Habermas dalam memecahkan permasalahan rasionalitas pendahulunya. Terdapat sebuah rasio dimana terjadi pengungkapan kepentingan-kepentingan indivisu melalui dialog agar terjadi kesepakatan bersama. habermas menganggap bahwa praksis bukan hanya mengenai ‘kerja’ tapi juga ‘komunikasi’. Rasio itu tidak hanya tampak dari pekerjaan tapi juga dari interaksi melalui bahasa-bahasa. Sehingga komunikasi menjadi rasio yang penting dalam masyarakat.
Ilmu-ilmu kritis bertujuan untuk membantu masyarakat mencapai otonomi dan kedewasaan) Masyarakat yang cerdas adalah mereka yang berhasil melakukan komunikasi yang memuaskan, dimana para komunikator membuat komunikannya memahami maksudnya dengan berusaha mencapai apa yang disebut Habermas sebagai “klaim-klaim kesasihan”. Klaim-klaim inilah yang dipandang rasional dan akan diterima tanpa paksaan. Klaim-kalim ini terdiri atas klaim kebenaran yakni kalau kita sepakat tentang dunia alamiah atau objektif, klaim ketepatan yakni kalau kita sepakat tentang pelaksanaan norma-norma dalam sunia sosial, klaim autentisitas yakni kalau kita sepakat tentang kesesuaian antara dunia batiniah dengan ekspresi seseorang, dan klaim komprehensif jika kita bisa menjelaskan semua kliam dalam memecahkan masalah rasionalitas.
Selanjutnya, habermas juga mengatakan bahwa masyarakat komunikatis bukanlah masyarakat yang melakukan kritik melalui revolusi atau kekerasan, melainkan melalui argumentasi. Disinilah muncul kebutuhan akan suatu wadah yang dapat menampung berbagai pemikiran masyarakat akan kepentingan publik dimana tempat ini terbebas dari dominasi maupun sensor. Tempat inilah yang disebut ruang publik. Ruang publik ini penting pula untuk merasionalisasikan kekuasaan dimana kekuasaan dicerahi dengan diskusi rasional yang bersifat publik agar para anggota masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan politis.
Habermas tetap berpegang teguh pada pendiriannya yang menyatakan bahwa masyarakat jangan dilihat hanya sebagai sistem administrasi dan ekonomi, melainkan juga sebagai solidaritas budaya atau komunitas. Mayarakat pada hakikatnya komunikatif, dan yang menentukan perubahan sosial bukanlah semata-mata perkembangan kekuatan produksi atau teknologi, melainkan proses belajar dalam dimensi praktis. Teknologi dan faktor objektif lai baru bisa mengubah masyarakat kalau mereka mengintegrasikannya ke dalam tidakan komunikatif yang memiliki “logikanya sendiri”.
Pada bab pertama, F. Budi Hardiman memaparkan bagaimana kritik terhadap kebebasan-nilai ilmu-ilmu. Terdapat pertentangan mengenai ilmu sosial bebas-nilai. Hal ini kemudian dikritik oleh para filsuf Frankfurt. Lalu terdapat pula perdebatan tentang ilmu murni. Ilmu murni menjadi tujuan dari ilmu pengetahuan dimana ilmu berdiri sendiri dan terbebas dari kepentingan. Namun, untuk mendapatkan ilmu murni, seseorang haruslah membersihkan diri dari refleksi, nafsu, keinginan, perasaan, mitos, dan lain-lain. Dan menurut Habermas, kegiatan pembersihan tersebut juga merupakan sebuah kepentingan.
Habermas membedakan ilmu pengetahuan kedalam tiga cakupan: ilmu-ilmu empiris-analitis, ilmu-ilmu histories-hermeneutis, dan ilmu-ilmu kritis. Habermas juga melontarkan kritiknya terhadap positivisme dan saintisme. Teori murni adalah semu, lalu Habermas menunjuk kesemuan itu sebagai bentuk kesadaran palsu dalam pengertian Marxis.
Dalam buku Menuju Masyarakat Komunikatif karya F. Budi Hardiman, saya baru mengetahui sedikit tentang Habermas dari sekian banyak paparan tentang beliau dalam buku ini. Banyaknya istilah yang menurut saya masih asing, dan bahasa yang cukup rumit membuat saya kurang begitu bisa memahami arti sebenarnya dari suatu kalimat. Diperlukan pemahaman istilah yang baik dan kesabaran dalam memahami isi buku ini.
Dalam bagian perspektif umum mengenai Habermas dan masyarakat Komunikatif, F. Budi Hardiman mencoba memaparkan ikhtisar dari apa yang akan diulas pada bab-bab selanjutnya di buku ini. F. Budi Hardiman mengemukakan dengan rinci pandangan-pandangan Habermas mengenai teori kritis, rasionalitas, perkembangan ilmu pengetahuan modern, perkembangan teknologi yang berujung pada munculnya ideologi baru, macetnya pemikiran Mahzab Frankfurt generasi pertama, dan lain-lain.
Mahzab Frankfurt yang dipelopori oleh Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse, melontarkan kritik-kritik tajam terhadap masyarakat industri maju pada tahun 1960-an. Mereka mengkritik salah satu asumsi dari kaum positivis yang menyebutkan bahwa ilmu-ilmu sosial itu bebas nilai, satu-satunya bentuk pengetahuan yang benar adalah pengetahuan ilmiah. Kritikan ini juga didukung oleh Habermas dengan mengatakan bahwa segala bentuk ilmu dijuruskan oleh kepentingan kognitif, karena itu tidak bebas-nilai. Demikian pula Teori Kritis yang didorong oleh kepentingan emansipatoris.
Mahzab Frankfurt memang kritis terhadap ketimpangan di masyarakat. Mereka mendorong terwujudnya emansipasi. Perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan modern justru membuat masyarakat semakin terpengaruh dan tergantung oleh hal-hal yang mekanistis seperti sistem ekonomi dan birokrasi. “Pencerahan” yang tadinya bisa terwujud dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern dan teknologi, malah membuat masyarakat semakin berpikir positivistic, menggunakan akal untuk mencapai tujuan. Rasio inilah yang disebut rasio instrumental.
Penampilan rasio kritis terlihat dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kedua hal tersebut telah menjadi mitos atau ideolodi baru. Masyarakat beranggpan bahwa kedua hal tersebut adalah hal yang harus diikuti. Hal ini membuat Marcuse melontarkan kritik dengan karyanya One-Dimensional Man. Dalam buku tersebut, masyarakat industri maju dilukiskan sebagai masyarakat berdimensi tunggal dan kehilangan dimensi kedua yakni perlawanan terhadap sistem. Hal ini menyebabkan masyarakat mengadaptasi dominasi perkembangan teknologi tersebut tanpa adanya perlawanan terhadap sistem tersebut. Ini artinya masyarakat terkendalikan oleh sistem perkembangan teknologi tersebut. Jika emansipasi yang dihasilkan oleh perkembangan tersebut menjadi sebuah dominasi baru, makan kritik pun menjadi sebuah alat dominasi.
Habermas memperkenalkan teori ktirisnya yang bernama Teori Tindakan Komunikatif tahun 1980-an. Teori ini kritis terhadap masyarakat modern yang tidak rasional karena semakin terbenam dalam pertumbuhan zaman yang tak terkendali. Selain itu, teori ini kritis terhadap pendekatan ilmiah yang tidak mampu menjelaskan rasionalisasi kemasyarakatan yang menganggap sistem sosial hanya sebagai objek. Habermas berpendapat bahwa rasio yang menempatkan kenyataan (rasio instrumental), baik masyarakat maupun alam sebagai objek, bukanlah satu-satunya rasio. Komunikasi adalah titik tolak Habermas dalam memecahkan permasalahan rasionalitas pendahulunya. Terdapat sebuah rasio dimana terjadi pengungkapan kepentingan-kepentingan indivisu melalui dialog agar terjadi kesepakatan bersama. habermas menganggap bahwa praksis bukan hanya mengenai ‘kerja’ tapi juga ‘komunikasi’. Rasio itu tidak hanya tampak dari pekerjaan tapi juga dari interaksi melalui bahasa-bahasa. Sehingga komunikasi menjadi rasio yang penting dalam masyarakat.
Ilmu-ilmu kritis bertujuan untuk membantu masyarakat mencapai otonomi dan kedewasaan) Masyarakat yang cerdas adalah mereka yang berhasil melakukan komunikasi yang memuaskan, dimana para komunikator membuat komunikannya memahami maksudnya dengan berusaha mencapai apa yang disebut Habermas sebagai “klaim-klaim kesasihan”. Klaim-klaim inilah yang dipandang rasional dan akan diterima tanpa paksaan. Klaim-kalim ini terdiri atas klaim kebenaran yakni kalau kita sepakat tentang dunia alamiah atau objektif, klaim ketepatan yakni kalau kita sepakat tentang pelaksanaan norma-norma dalam sunia sosial, klaim autentisitas yakni kalau kita sepakat tentang kesesuaian antara dunia batiniah dengan ekspresi seseorang, dan klaim komprehensif jika kita bisa menjelaskan semua kliam dalam memecahkan masalah rasionalitas.
Selanjutnya, habermas juga mengatakan bahwa masyarakat komunikatis bukanlah masyarakat yang melakukan kritik melalui revolusi atau kekerasan, melainkan melalui argumentasi. Disinilah muncul kebutuhan akan suatu wadah yang dapat menampung berbagai pemikiran masyarakat akan kepentingan publik dimana tempat ini terbebas dari dominasi maupun sensor. Tempat inilah yang disebut ruang publik. Ruang publik ini penting pula untuk merasionalisasikan kekuasaan dimana kekuasaan dicerahi dengan diskusi rasional yang bersifat publik agar para anggota masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan politis.
Habermas tetap berpegang teguh pada pendiriannya yang menyatakan bahwa masyarakat jangan dilihat hanya sebagai sistem administrasi dan ekonomi, melainkan juga sebagai solidaritas budaya atau komunitas. Mayarakat pada hakikatnya komunikatif, dan yang menentukan perubahan sosial bukanlah semata-mata perkembangan kekuatan produksi atau teknologi, melainkan proses belajar dalam dimensi praktis. Teknologi dan faktor objektif lai baru bisa mengubah masyarakat kalau mereka mengintegrasikannya ke dalam tidakan komunikatif yang memiliki “logikanya sendiri”.
Pada bab pertama, F. Budi Hardiman memaparkan bagaimana kritik terhadap kebebasan-nilai ilmu-ilmu. Terdapat pertentangan mengenai ilmu sosial bebas-nilai. Hal ini kemudian dikritik oleh para filsuf Frankfurt. Lalu terdapat pula perdebatan tentang ilmu murni. Ilmu murni menjadi tujuan dari ilmu pengetahuan dimana ilmu berdiri sendiri dan terbebas dari kepentingan. Namun, untuk mendapatkan ilmu murni, seseorang haruslah membersihkan diri dari refleksi, nafsu, keinginan, perasaan, mitos, dan lain-lain. Dan menurut Habermas, kegiatan pembersihan tersebut juga merupakan sebuah kepentingan.
Habermas membedakan ilmu pengetahuan kedalam tiga cakupan: ilmu-ilmu empiris-analitis, ilmu-ilmu histories-hermeneutis, dan ilmu-ilmu kritis. Habermas juga melontarkan kritiknya terhadap positivisme dan saintisme. Teori murni adalah semu, lalu Habermas menunjuk kesemuan itu sebagai bentuk kesadaran palsu dalam pengertian Marxis.
Langganan:
Komentar (Atom)

