Media Now

Minggu, 10 Maret 2013

CULTIVATION THEORY

CULTIVATION THEORY

1.Asumsi Dasar Teori Kultivasi

Teori kultivasi (cultivation theory) pertama kali dikenalkan oleh Professor George Gerbner, seorang Dekan Emiritus dari Annenberg School for Communication di Universitas Pensylvania. Asumsi mendasar dari teori kultivasi adalah terpaan media yang terus-menerus akan memberikan gambaran dan pengaruh pada persepsi pemirsanya. Teori kultivasi dalam bentuknya yang paling mendasar, percaya bahwa televisi bertanggung jawab dalam membentuk, atau mendoktrin konsepsi pemirsanya mengenai realitas sosial yang ada disekelilingnya. Pengaruh-pengaruh dari televisi yang berlangsung secara simultan, terus-menerus, secara tersamar telah membentuk persepsi individu/audiens dalam memahami realitas sosial. Lebih jauh lagi hal tersebut akan mempengaruhi budaya kita secara keseluruhan.

Hipotesis umum dari analisis teori kultivasi adalah orang yang lebih lama ‘hidup’ dalam dunia televisi (heavy viewer) akan cenderung melihat dunia nyata seperti gambaran, nilai-nilai, potret, dan ideology yang muncul pada layar televisi. (J. Bryant and D. Zillman (Eds), 2002). Hipotesis ini menjelaskan bahwa realitas sama dengan yang ada di televisi.

Dalam riset proyek indikator budaya (cultural indicator research project) terdapat lima asumsi yang dikaji Gerbner dan koleganya (Baran, 2003 : 324-325).
Pertama, televisi secara esensial dan fundamental berbeda dari bentuk media massa lainnya. Televisi tidak menuntut melek huruf seperti pada media suratkabar, majalah dan buku. Televisi bebas biaya, sekaligus menarik karena kombinasi gambar dan suara.
Kedua, medium televisi menjadi the central cultural arm masyarakat Amerika, karena menjadi sumber sajian hiburan dan informasi.
Ketiga, persepsi seseorang akibat televisi memunculkan sikap dan opini yang spesifik tentang fakta kehidupan. Karena kebanyakan stasiun televisi mempunyai target khalayak sama, dan bergantung pada bentuk pengulangan program acara dan cerita (drama).
Keempat, fungsi utama televisi adalah untuk medium sosialisasi dan enkulturasi melalui isi tayangannya (berita, drama, iklan) sehingga pemahaman akan televisi bisa menjadi sebuah pandangan ritual/berbagi pengalaman daripada hanya sebagai medium transmisi.
Kelima, observasi, pengukuran, dan kontribusi televisi kepada budaya relatif kecil, namun demikian dampaknya signifikan.

Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para pemirsa televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak Anda tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak Anda dengan televisi, Anda belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya.

2.Konsep Teori Kultivasi
Televisi mempunyai kemampuan untuk menggambarkan apa yang terjadi, apa yang penting dalam berbagai kejadian, dan menjelaskan hubungan-hubungan serta makna yang ada di antara kejadian-kejadian itu. Dengan cara itu, televisi -begitu pula media massa lainnya- membentuk lingkungan simbolis.

Televisi berfungsi menanamkan ideologi. Usaha untuk menganalisa akibat-akibat penanaman ideologi oleh televisi inilah yang disebut dengan cultivation analysis. Misalnya, diduga bahwa makin sering seseorang menonton televisi, makin mirip persepsinya tentang realitas sosial dengan apa yang disajikan dalam televisi.
Gerbner mengemukakan konsep mainstreaming dan resonance. Mainstreaming artinya mengikuti arus. Mainstreaming dimaksudkan sebagai kesamaan di antara penonton berat (heavy viewers) pada berbagai kelompok demografis, dan perbedaan dari kesamaan itu pada penonton ringan (light viewers). Bila televisi sering kali menyajikan adegan kekerasan, maka penonton berat akan melihat dunia ini dipenuhi kekerasan. Sementara itu, penonton ringan akan melihat dunia tidak sesuram seperti yang dipersepsikan penonton berat.

Bila yang disajikan televisi itu ternyata juga cocok dengan apa yang disaksikan pemirsanya di lingkungannya, daya penanaman ideologi dari televisi ini makin kuat. Ini disebut Gerbner sebagai resonance. Penonton televisi yang tinggal di daerah yang penuh kejahatan akan makin yakin bahwa dunia yang disajikan televisi adalah dunia yang sebenarnya. Pembahasan mengenai mainstreaming dan resonance akan dibahas lebih lanjut pada penjelasan teori kultivasi.

Menurut teori kultivasi, media, khususnya televisi, merupakan sarana utama kita untuk belajar tentang masyarakat dan kultur kita. Melalui kontak kita dengan televisi (dan media lain), kita belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasaanya.

3.Penjelasan Teori Kultivasi
Penelitian kultivasi termasuk kedalam tradisi efek media dalam ilmu komunikasi. Para pakar teori ini berpendapat bahwa televisi memiliki efek yang relatif kecil akan tetapi sifatnya yang simultan maka ia memiliki efek yang memanjang, memiliki efek yang gradual, tidak secara langsung mempengaruhi akan tetapi berjalan secara kumulatif dan efek yang cukup signifikan.

Penelitian kultivasi menekankan bahwa media massa sebagai agen sosalisasi dan menyelidiki apakah penonton televisi itu lebih mempercayai apa yang disajikan televisi daripada apa yang mereka lihat sesungguhnya. Gerbner dan kawan-kawannya melihat bahwa film drama yang disajikan di televisi mempunyai sedikit pengaruh tetapi sangat penting di dalam mengubah sikap, kepercayaan, pandangan penonton yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya.

Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan dan memperkuat ide-ide dan nilai-nilai yang telah terbentuk sebelumnya di dalam masyarakat atau budaya yang telah terbentuk. Media mempertahankan dan menyebarluaskan nilai-nilai tersebut diantara anggota-anggota kebudayaan tersebut, dan mengikatnya menjadi sebuah kesatuan. Gerbner menyebutnya sebagai efek "mainstreaming" atau efek yang tendensius. Mainstreaming dalam analisis kultivasi terjadi pada pecandu berat televisi (menonton lebih dari 4 jam sehari) yang mana simbol-simbol televisi telah memonopoli dan mendominasi sumber informasi dan gagasan tentang dunia.

Para pakar teori ini memisahkan antara efek pertama "first order" dan efek kedua "second order". Efek pertama yakni mengenai keyakinan-keyakinan yang bersifat umum mengenai fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (efek pada ranah kognisi). Dalam konsep teori kultivasi mencerminkan adanya kategorisasi audiens kedalam dua jenis penikmat televisi, yakni "penonton berat/pecandu televisi" dan "penonton ringan". Pecandu berat televisi (heavy viewers), yakni pecandu berat televisi yang seakan-akan dia lebih terpengaruh atau lebih percaya kepada realitas yang dibentuk oleh media dibandingkan dengan kepercayaannya terhadap realitas yang dia alami sendiri secara langsung. Kategori penonton kedua mungkin memiliki lebih banyak sumber informasi dari pada kategori penonton yang pertama.

Resonansi (Resonance)" menjelaskan efek intensif yang kemudian akan diterima oleh audiens tentang apa yang mereka lihat di televisi adalah merupakan apa yang telah mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Resonance terjadi ketika pemirsa melihat sesuatu di televisi yang sama dengan realitas kehidupan mereka sendiri. Televisi tidak sekadar memberikan pengetahuan, atau melaporkan realitas peristiwa. Lebih dari itu, televisi berhasil menanamkan realitas bentukannya ke benak pemirsa. Sehingga menurut Perse (2001:215) efek dominan kultivasi kekerasan televisi pada individu adalah pada kognitif (meyakini tentang realitas sosial) dan afektif (takut akan kejahatan).

Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Dengan kata lain, media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakininya. Jadi, para pecandu televisi itu akan punya kecenderungan sikap yang sama satu sama lain.

Televisi, sebagaimana yang pernah dicermati oleh Gerbner, dianggap sebagai pendominasi “lingkungan simbolik” kita. Sebagaimana menurut McQual dan Windahl (1993), teori kultivasi menganggap bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari di sekitar kita, tetapi dunia itu sendiri. Gerbner (meminjam istilah Bandura) juga berpendapat bahwa gambaran tentang adegan kekerasan di televisi lebih merupakan pesan simbolik tentang hukum dan aturan. Dengan kata lain, perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian di sekitar kita. Jadi, kekerasan yang ditayangkan di televisi dianggap sebagai kekerasan yang memang sedang terjadi di dunia ini.
Tuduhan munculnya kejahatan di dalam masyarakat kadang-kadang disebut dengan “sindrome dunia makna (mean world syndrome)”. Bagi para pecandu berat televisi, dunia ini cenderung dipercaya sebagai tempat yang buruk dari pada mereka yang tidak termasuk pecandu berat televisi. Efek kultivasi memberikan kesan bahwa televisi mempunyai dampak yang sangat kuat pada diri individu. Bahkan, mereka itu menganggap bahwa lingkungan di sekitarnya sama seperti yang tergambar dalam televisi.

4.Penerapan Teori Kultivasi
Para penonton berat akan cenderung melihat dunia nyata seperti apa yang digambarkan di televisi. Semakin sering kita menonton suatu program televisi, kita akan semakin terpengaruh oleh program itu. Jika kita menonton acara seperti Buser, Patroli atau Sergap di televisi swasta Indonesia akan terlihat beberapa perilaku kejahatan yang dilakukan masyarakat. Dalam acara itu diketengahkan tidak sedikit kejahatan yang bisa diungkap. Dalam pandangan kultivasi dikatakan bahwa adegan yang tersaji dalam acara-acara itu menggambarkan dunia kita sebenarnya. Bahwa di Indonesia kejahatan itu sudah sedemikian mewabah dan kuantitasnya semakin meningkat. Acara itu seolah menggambarkan dunia kejahatan seperti itulah yang sebenarnya ada di Indonesia. Contoh lain, semakin sering kita menonton suatu sinetron, kita akan semakin beranggapan bahwa sinetron itu adalah suatu realitas. Jika kita sering melihat tokoh ibu tiri yang kejam di sinetron, maka di dunia nyata kita akan beranggapan bahwa ibu tiri itu kejam dan kita akan benci jika ayah kita menikah lagi.
Hawkins dan Pingree (1982) menemukan model proses kultivasi, yaitu bahwa proses kultivasi dalam pikiran kita terbagi dua, yaitu learning dan constructing. (J. Bryant and D. Zillman (Eds), 2002). Apa yang dilihat oleh audiens kemudian akan melalui tahap belajar dan diikuti tahap mengkonstruksi dalam pikiran audiens tersebut

SUMBER-SUMBER RUJUKAN
1. http://nurudin-umm.blogspot.com/2008/11/cultivation-theory-teori-kultivasi.html
2. http://eva-sweety.blogspot.com/2008/08/teori-efek-media.html
3. http://manhatan.blog.friendster.com/2006/12/
4. http://komunitasmahasiswa.info/2009/02/media-kultivasi/
5. http://nurudin.multiply.com/journal/item/31
6. http://ernams.wordpress.com/2008/07/10/teori-kultivasi.html
7. http://komunikasimassa-umy.blogspot.com/2005/06/teori-hasil-kebudayaan.html
8. http://aingkries.blogspot.com/2007/09/teori-kul.html
9. Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
10. Ardianto, Elvinaro., Lukiati Komala, Siti Karlinah. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung : Simbiosa

Selasa, 01 Juni 2010

IMPARTIALITY

IMPARTIALITY

Impartiality merupakan suatu doktrin yang tidak memihak dalam pelaporan urusan publik di dalam media penyiaran. Impartiality (keadilan) merupakan sesuatu yang praktis dan pragmatis (berguna) dari sebuah penyesuaian diri (akomodasi) antara penyiar dan partai politik parlementer (terutama dalam pemerintahan dengan dua partai politik). Ini merupakan strategi dimana reporter seharusnya membuat laporan mengenai (i) pandangan dan pendapat secara menyeluruh; (ii) beban pendapar yang relatif (ini artinya bahwa pandangan yang tak dapat dipungkiri dan pandangan ortodoks (telah menjadi kebiasaan) menjadi prioritas terhadap tantangannya); (iii) perubahan yang terjadi dalam jangkauan dan beban opini dari waktu ke waktu.
Secara tradisional, impartiality harus dicoba ke dalam program. Dalam membuat suatu program kita tidak bisa terus mengupayakan penghasilan yang melimpah, kita juga harus menggunakan sisi kemanusiaan kita dalam memandang keterbatasan maupun keinginan karyawan sehingga terjadi keseimbangan antara tercapainya keinginan produser dengan karyawannya. Bagaimanapun, gagasan dari impartiality antarprogram adalah mendapatkan penerimaan. Idenya adalah bahwa jika pemirsa meminta pemerataan program, institusi media dapat memberinya hanya satu posisi dalam program acara tunggal, dan mengetahui bahwa orang lain akan memberikan pandangan berlawanan pada waktu yang lain. Pengembangan ini menghasilkan tekanan yang sebagian besar datang dari dari diri penyiar sendiri, dimana sebagian dari mereka yang menginginkan ‘jurnalisme yang diposisikan’ tidak menganggap harus memiliki sudut pandang sendiri. Jurnalis harus memeiliki sudut pandang sendiri dalam melihat suatu kebenaran dan mereka haruslah objektif, faktual, dan tidak berpihak. Sementara itu, Jurnalisme yang diposisikan tidak harus memiliki sudut pandang sendiri karena mereka ditentukan olrh atasan mereka.
Impartiality seringkali dibedakan dari dua konsep lain, yakni balance dan neutrality. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan mereka. Balance menjadi alokasi dari waktu yang sama untuk menentang sudut pandang, dimana sesuatu yang dikatakan kurang penting daripada waktu dimana kata itu dikatakan. Balance menunjuk pada keseimbangan proporsi berita. Neutrality merupakan pengaksesan yang tidak pandang bulu terhadap setiap sudut pandang tanpa prinsip pemilihan. Hal ini dianggap tidak memuaskan sebab politikus parlementer tidak ramah terhadap waktu siaran yang diberikan kepada kelompok yang ingin menggulingkan atau mengancam partai politik. Seperti halnya partai komunis, nasionalis, dan sosialis yang beroperasi diluar kerangka kerja parlementer aksesnya ditolak tanpa penyiar yang diijinkan – dan itu bukanlah hal yang netral. Hasilnya, doktrin dari impartialitas dapat dilihat sebagai penyangga utama dari sistem parlementer (dua-partai). Hal ini juga tentu merupakan sebuah keperluan peraturan yang menempatkan penyiar oleh parlemen.

Berita dan kabar terkini menggunakan prinsip keadilan, dengan demikian memastikan bahwa (batasan dan keseimbangan) cakupan suara itu diakses atas topik tiap orang sehingga setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh informasi.

Sekilas Tentang Buku Menuju Masyarakat Komunikatif

Sekilas Tentang Buku Menuju Masyarakat Komunikatif

Dalam buku Menuju Masyarakat Komunikatif karya F. Budi Hardiman, saya baru mengetahui sedikit tentang Habermas dari sekian banyak paparan tentang beliau dalam buku ini. Banyaknya istilah yang menurut saya masih asing, dan bahasa yang cukup rumit membuat saya kurang begitu bisa memahami arti sebenarnya dari suatu kalimat. Diperlukan pemahaman istilah yang baik dan kesabaran dalam memahami isi buku ini.
Dalam bagian perspektif umum mengenai Habermas dan masyarakat Komunikatif, F. Budi Hardiman mencoba memaparkan ikhtisar dari apa yang akan diulas pada bab-bab selanjutnya di buku ini. F. Budi Hardiman mengemukakan dengan rinci pandangan-pandangan Habermas mengenai teori kritis, rasionalitas, perkembangan ilmu pengetahuan modern, perkembangan teknologi yang berujung pada munculnya ideologi baru, macetnya pemikiran Mahzab Frankfurt generasi pertama, dan lain-lain.

Mahzab Frankfurt yang dipelopori oleh Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse, melontarkan kritik-kritik tajam terhadap masyarakat industri maju pada tahun 1960-an. Mereka mengkritik salah satu asumsi dari kaum positivis yang menyebutkan bahwa ilmu-ilmu sosial itu bebas nilai, satu-satunya bentuk pengetahuan yang benar adalah pengetahuan ilmiah. Kritikan ini juga didukung oleh Habermas dengan mengatakan bahwa segala bentuk ilmu dijuruskan oleh kepentingan kognitif, karena itu tidak bebas-nilai. Demikian pula Teori Kritis yang didorong oleh kepentingan emansipatoris.

Mahzab Frankfurt memang kritis terhadap ketimpangan di masyarakat. Mereka mendorong terwujudnya emansipasi. Perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan modern justru membuat masyarakat semakin terpengaruh dan tergantung oleh hal-hal yang mekanistis seperti sistem ekonomi dan birokrasi. “Pencerahan” yang tadinya bisa terwujud dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern dan teknologi, malah membuat masyarakat semakin berpikir positivistic, menggunakan akal untuk mencapai tujuan. Rasio inilah yang disebut rasio instrumental.

Penampilan rasio kritis terlihat dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kedua hal tersebut telah menjadi mitos atau ideolodi baru. Masyarakat beranggpan bahwa kedua hal tersebut adalah hal yang harus diikuti. Hal ini membuat Marcuse melontarkan kritik dengan karyanya One-Dimensional Man. Dalam buku tersebut, masyarakat industri maju dilukiskan sebagai masyarakat berdimensi tunggal dan kehilangan dimensi kedua yakni perlawanan terhadap sistem. Hal ini menyebabkan masyarakat mengadaptasi dominasi perkembangan teknologi tersebut tanpa adanya perlawanan terhadap sistem tersebut. Ini artinya masyarakat terkendalikan oleh sistem perkembangan teknologi tersebut. Jika emansipasi yang dihasilkan oleh perkembangan tersebut menjadi sebuah dominasi baru, makan kritik pun menjadi sebuah alat dominasi.

Habermas memperkenalkan teori ktirisnya yang bernama Teori Tindakan Komunikatif tahun 1980-an. Teori ini kritis terhadap masyarakat modern yang tidak rasional karena semakin terbenam dalam pertumbuhan zaman yang tak terkendali. Selain itu, teori ini kritis terhadap pendekatan ilmiah yang tidak mampu menjelaskan rasionalisasi kemasyarakatan yang menganggap sistem sosial hanya sebagai objek. Habermas berpendapat bahwa rasio yang menempatkan kenyataan (rasio instrumental), baik masyarakat maupun alam sebagai objek, bukanlah satu-satunya rasio. Komunikasi adalah titik tolak Habermas dalam memecahkan permasalahan rasionalitas pendahulunya. Terdapat sebuah rasio dimana terjadi pengungkapan kepentingan-kepentingan indivisu melalui dialog agar terjadi kesepakatan bersama. habermas menganggap bahwa praksis bukan hanya mengenai ‘kerja’ tapi juga ‘komunikasi’. Rasio itu tidak hanya tampak dari pekerjaan tapi juga dari interaksi melalui bahasa-bahasa. Sehingga komunikasi menjadi rasio yang penting dalam masyarakat.

Ilmu-ilmu kritis bertujuan untuk membantu masyarakat mencapai otonomi dan kedewasaan) Masyarakat yang cerdas adalah mereka yang berhasil melakukan komunikasi yang memuaskan, dimana para komunikator membuat komunikannya memahami maksudnya dengan berusaha mencapai apa yang disebut Habermas sebagai “klaim-klaim kesasihan”. Klaim-klaim inilah yang dipandang rasional dan akan diterima tanpa paksaan. Klaim-kalim ini terdiri atas klaim kebenaran yakni kalau kita sepakat tentang dunia alamiah atau objektif, klaim ketepatan yakni kalau kita sepakat tentang pelaksanaan norma-norma dalam sunia sosial, klaim autentisitas yakni kalau kita sepakat tentang kesesuaian antara dunia batiniah dengan ekspresi seseorang, dan klaim komprehensif jika kita bisa menjelaskan semua kliam dalam memecahkan masalah rasionalitas.

Selanjutnya, habermas juga mengatakan bahwa masyarakat komunikatis bukanlah masyarakat yang melakukan kritik melalui revolusi atau kekerasan, melainkan melalui argumentasi. Disinilah muncul kebutuhan akan suatu wadah yang dapat menampung berbagai pemikiran masyarakat akan kepentingan publik dimana tempat ini terbebas dari dominasi maupun sensor. Tempat inilah yang disebut ruang publik. Ruang publik ini penting pula untuk merasionalisasikan kekuasaan dimana kekuasaan dicerahi dengan diskusi rasional yang bersifat publik agar para anggota masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan politis.

Habermas tetap berpegang teguh pada pendiriannya yang menyatakan bahwa masyarakat jangan dilihat hanya sebagai sistem administrasi dan ekonomi, melainkan juga sebagai solidaritas budaya atau komunitas. Mayarakat pada hakikatnya komunikatif, dan yang menentukan perubahan sosial bukanlah semata-mata perkembangan kekuatan produksi atau teknologi, melainkan proses belajar dalam dimensi praktis. Teknologi dan faktor objektif lai baru bisa mengubah masyarakat kalau mereka mengintegrasikannya ke dalam tidakan komunikatif yang memiliki “logikanya sendiri”.

Pada bab pertama, F. Budi Hardiman memaparkan bagaimana kritik terhadap kebebasan-nilai ilmu-ilmu. Terdapat pertentangan mengenai ilmu sosial bebas-nilai. Hal ini kemudian dikritik oleh para filsuf Frankfurt. Lalu terdapat pula perdebatan tentang ilmu murni. Ilmu murni menjadi tujuan dari ilmu pengetahuan dimana ilmu berdiri sendiri dan terbebas dari kepentingan. Namun, untuk mendapatkan ilmu murni, seseorang haruslah membersihkan diri dari refleksi, nafsu, keinginan, perasaan, mitos, dan lain-lain. Dan menurut Habermas, kegiatan pembersihan tersebut juga merupakan sebuah kepentingan.

Habermas membedakan ilmu pengetahuan kedalam tiga cakupan: ilmu-ilmu empiris-analitis, ilmu-ilmu histories-hermeneutis, dan ilmu-ilmu kritis. Habermas juga melontarkan kritiknya terhadap positivisme dan saintisme. Teori murni adalah semu, lalu Habermas menunjuk kesemuan itu sebagai bentuk kesadaran palsu dalam pengertian Marxis.

Rabu, 31 Maret 2010

Jurgen Habermas

Jurgen Habermas

Definisi yang diizinkan secara resmi menyangkut soal apa yang kita inginkan dalam hidup, akan tetapi bukan hidup bagaimana yang kita inginkan, bahkan apabila berdasar potensi-potensi yang bisa dicapai, kita mengetahui cara hidup yang bagaimana yang sebetulnya dapat kita capai (Habermas, 1990).

Jurgen Habermas adalah seorang filsuf kontemporer yang paling terkenal di Jerman. Ia merupakan salah satu filsuf dari mahzab Frankfurt. Habernas dilahirkan pada 18 Juni 1929 di daerah Dusseldorf Jerman dan merupakan anak Ketua Kamar Dagang propinsi Rheinland-Westfalen di Jerman Barat. Habermas dibesarkan di Gummersbach, sebuah kota di Jerman dengan dinamika lingkungan Borjuis-Protestan.

Habermas adalah generasi kedua dari Frankfurt School. Habermas berusaha mengatasi kebuntuan para pendahulunya dalam mengatasi masalah rasionalitas. Habernas juga dikenal sebagai filsuf masa kini yang kritis terhadap pemikiran-pemikiran Marxist. Setelah membuka kembali tradisi kritis yang dimulai dari Kant, Habermas menemukan bahwa rasio kerja (instrumental) bukanlah satu-satunya rasio. Menurutnya, ada sebuah rasio yang dilupakan manusia, yakni rasio dimana kita mengungkapkan kepentingan kita. Rasio inilah yang disebut rasio komunikatif. Berdasarkan rasio ini, ketika kita berhadapan dengan manusia lain, maka terjadi pertemuan antarkepentingan. Kepentingan-kepentingan individu inilah yang harus disingkapkan dan dikomunikasikan agar masing-masing individu mengetahui kepentingan-kepentingan yang ada dan kemudian dicari irisan dari kepentingan-kepentingan tersebut guna memuaskan setiap individu yang memiliki kepentingan.

Rasio komunikatif ini bertentangan dengan rasio yang menurut Habermas mendominasi masyarakat saat ini, yakni rasio instrumental. Rasio ini merupakan cara kita berpikir untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan. Rasio ini menjadikan akal pikiran sebagai alat untuk mengatasi sesuatu atau mencapai tujuan. Rasio ini idealnya dipaki ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang bersifat alamiah atau kebendaan. Misalnya, ketika kita hendak menyebrangi sungai dimana disana tidak terdapat jembatan padahal kita harus menyebrangi sungai tersebut, maka kita bisa berpikir untuk menebang pohon untuk dijadikan jembatan atau perahu. Kita tidak memikirkan kepentingan kayu tersebut karena ia benda mati, dan tentu tidak memiliki kepentingan. Berbeda dengan tatkala kita berhadapan dengan sesama manusia, yang sudah tentu memiliki kepentingan masing-masing. Hal ini lah yang disorot oleh Habermas. Sudah selayaknya kita memahami kepentingan kita sendiri dan kepentingan orang lain, dan berusaha mensinkronisasikan kepentingan tersebut.

Habernas menciptakan The Theory of Communicative Action yang terdiri dari dua jilid dan merupakan upaya Habermas dalam mengembangkan rumusan perubahan sosial. Dalam hubungan ini, sebagai pengganti paradigma kerja, Habermas mengacu pada paradigma komunikasi. Implikasi dari paradigma baru ini adalah memahami praxis emansipatoris sebagai dialog-dialog komunikatif dan tindakan-tindakan komunikatif yang menghasilkan pencerahan. Hal ini bertolak belakang dengan teori-teori Marxist klasik yang menggunakan jalan revolusioner untuk menjungkirbalikkan struktur masyarakat demi terciptanya masyarakat sosialis yang dicita-citakan.

Habermas memandang komunikasi sebagai transaksi antara harapan dan peran harus dilakukan oleh dua orang manusia yang ‘mundigkeit’ atau sudah dewasa dan bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukannya. Komunikasi itu sendiri dimulai dengan menyingkapkan masing-masing ideologi (kepentingan). Sehingga nilai rasio komunikasi tersebut bersifat intersubyektif. Seperti yang sudah saya kemukakan diatas, bahwa untuk tercapainya komunikasi yang efektif, berbagai kepentingan individual harus diungkapkan dan dicari titik temunya.

Habermas menempuh jalan konsensus dengan sasaran terciptanya “demokrasi radikal”, yaitu hubungan-hubungan sosial yang terjadi dalam lingkup komunikasi bebas kekuasaan. Dalam konteks komunikasi ini, perjuangan kelas dalam pandangan klasik, revolusi politik, diganti dengan perbincangan rasional dimana argumen-argumen berperan sebagai unsur emansipatoris. (Hardiman, 1989:83). Yang menjadi perhatiannya adalah terciptanya masyarakat demokratis dan rasional, artinya membangun sebuah masyarakat atas dasar hubungan antarpribadi yang merdeka dan memulihkan manusia sebagai subyek-subyek yang mengelola sejarahnya.

Rasionalisasi kekuasaan dalam pandangan Habermas adalah kekuasaan yang ditentukan oleh diskusi publik yang kritis. Diskusi semacam itu hanya mungkin dilakukan di dalam sebuah wilayah sosial yang bebas dari sensor dan dominasi. Wilayah itulah yang disebut ruang publik. Dalam ruang publik setiap individu mengungkapkan berbagai pemikirannya yang terkait dengan kepentingan umum yang dibicarakan tanpa paksaan. Ruang publik ini tentu harus terbebas dari intervensi dari pihak manapun sehingga setiap individu bisa mengungkapkan pemikirannya secara bebas dan terbuka.

Pandangan ilmiah teori komunikasi kritik bersifat normatif yang menentang kebebasan nilai dan penyempitan realitas sosial pada penelitian yang positivisme empirik. Ditegaskannya bahwa realitas sosial harus didekati dengan emansipasi manusia, diteliti dengan teori sosial yang luas, tidak secara terpilah-pilah di antara ilmu, politik, dan filsafat (Hollander, 1981:24).

Jurgen Habermas dianggap sebagai filsuf penting dalam mengonsepsikan teori komunikasi kritik berkat analisisnya secara teoritis dan metodologis tentang keterbukaan dalam fungsi media massa sebagai problema sosial. Keterbukaan tersebut menyangkut hubungan pihak penguasa dengan pihak warga negara yang menunjukkan semakin berkembangnya dan berakarnya bentuk-bentuk komunikasi umum secara informal dan struktur sosial. Jurgen Habermas sebagai pembaharu teori kritis melakukan penelitian tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kepentingan. Menurut teori kritis, dibalik selubung obyektivitas ilmu-ilmu tersembunyi kepentingan-kepentingan kekuasaan (Magnis-Suseno, 1992:182).

Teori komunikasi kritis tidak hanya memusatkan perhatiannya semata-mata kepada media massa sebagai ajang penelitian. Teori komunikasi kritik adalah teori media massa kritik dengan konteks sosial sebagai titik tolaknya guna mempelajari fungsi media massa. Dalam hal inilah sumbangsih teori komunikasi kritik untuk Ilmu Komunikasi, yakni memperhitungkan faktor-faktor penting dalam masyarakat seperti politik, ekonomi, dan lain-lain.

Media massa seharusnya dapat menjadi sebuah ruang publik dimana masyarakat secara terbuka dapat mengungkapkan berbagai pemikirannya untuk kepentingan umum. Namun, kini media massa lebih terlihat sebagai alat penyampai kepentingan para penguasa atau pemilik modal sehingga peran media massa sebagai ruang publik telah luntur. Media massa yang idealnya terbebas dari berbagai intervensi, kini seolah menjadi alat yang efektif untuk mendapatkan kekuasaan. Hal ini juga terlihat dari uang dan kekuasaan yang semakin diperebutkan di era yang semakin kapitalis ini. Hal inilah yang menyebabkan rasionalitas komunikasi semakin terhalangi dan ruang publikpun semakin sulit untuk dibentuk. Sehingga proses kapitalis tersebut semakin berpotensi untuk memusnahkan ruang publik di tangan media massa kapitalis.

Dampak teori komunikasi ktirik terhadap perkembangn Ilmu Komunikasi adalah timbulnya kesadaran bahwa komunikasi massa dan media massa harus dipelajari dalam konteks sosial agar dapat diperoleh latar belakang historis-ekonomis-politis bagi fenomena komunikasi massa. Dengan kesadaran itu, banyak penelitian dilakukan secara integral dan secara interdisipliner mengenai pengaruh faktor ekonomi dan politik terhadap proses komunikasi massa, baik secara makro sosial ekonomi, maupun dalam lingkup kecil. Slain itu, kita semakin sadar pentingnya peran ruang publik bagi kenerlangsungan proses demokrasi di negara ini.

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa Jurgen Habermas adalah seorang filsuf dari mazhab Frankfurt yang memiliki sumbangsih bagi ilmu komunikasi, khususnya di bidang media massa dan komunikasi massa.

Minggu, 21 Maret 2010

Perspektif dalam Media

Perspektif dalam Media

Dalam memandang media, terdapat dua buah sudut pandang yang berkembang, yakni Pluralist View dan Marxist View. Berdasarkan perspektif sosiologis, Pluralist condong kearah liberalis, sedangkan Marxist lebih condong kepada pendekatan kritis. Kedua pandangan ini akan coba saya bahas disini.

Pluralist View
Seperti yang diutarakan oleh Curran and Gurevitch (1982), Pluralist mengasumsikan masyarakat sebagai orang-orang yang bergabung bersama-sama. Masyarakat terdiri dari berbagai kelompok yang beragam namun tetap berada dalam suatu keseimbangan dan kekuasaan atas berbagai faktor produksi yang sama. Di dalam masyarakat yang beragam ini, tidak terdapat suatu kelompok yang mendominasi. Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk bisa didengar. Selain itu, masing-masing individu dianggap memiliki kemampuan dan potensi yang sama, sehingga diperlukan suatu persaingan.

Dalam pandangan Pluralist, pemerintah hanya mengelola masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan dan keadilan mereka. Pemerintah diibaratkan sebagai wasit yang memimpin masyarakat, menegakkan peraturan yang telah diciptakan, dan memberikan hukuman bila terdapat suatu pelanggaran. Pemerintah tidak menciptakan peraturan-peraturan untuk masyarakat, hanya sebagai penegak keadilan guna kesejahteraan masyarakat. Pemerintah merupakan pihak yang tidak berpihak pada siapapun.
Kegiatan politik dipandang sebagai kegiatan yang independen, terbebas dari berbagai urusan ekonomi. Masyarakat kaya maupun masyarakat miskin diperlakukan sama di depan hukum dan pemerintahan.

Asumsi Pluralist Terhadap Media
Pluralist memandang bahwa media memberikan kesempatan kepada semua orang untuk menyuarakan pendapat dan pandangannya. Media merupakan sebuah forum terbuka bagi masyarakat yang independen dari berbagai kekuatan ekonomi dan pemerintahan. Media berperan dalam memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas atau tindakan.

Pluralist mengasumsikan bahwa informasi itu merupakan suatu pengetahuan, hal yang penting untuk masyarakat ketahui, dan bukan suatu hasil konstruksi berbagai kelompok berkepentingan. Pluralist juga melihat organisasi media sebagai suatu sistem organisasi yang terikat dan otonom (institusi otonom). Media mampu untuk mengungkapkan fakta yang sebenar-benarnya. Kalangan manajerial media dianggap sebagai orang-orang yang profesional dan memiliki otonomi dan kebebasan dalam menentukan isi media secara profesional.

Dalam pandangan Pluralist, masyarakat dianggap mampu melihat manipulasi media sehingga mereka mampu untuk menentukan prioritasnya.

Pluralist Model

Media terlihat sebagai ajang kompetisi dan kepentingan yang relatif otonom.

Marxist View
Pandangan Marxist sangat bersebrangan dengan Pluralist. Pandangan ini dipelopori oleh Karl Marx, seorang filsuf berkebangsaan Jerman. Marx beranggapan bahwa dalam masyarakat terdapat masyarakat yang dominan dan yang didominasi. Hal ini memperlihatkan bahwa ada ketidaksetaraan dalam masyarakat. Marx mempersoalkan modal sebagai faktor produksi. Masyarakat sangat dipengaruhi oleh ekonomi. Selain itu, ia juga beranggapan bahwa media tidak memberikan pilihan kepada udiensnya.
Marxist memandang bahwa pihak yang menguasai faktor-faktor produksi (material) akan menguasai sektor-sektor kehidupan lainnya termasuk produksi mental masyarakat. Marxist memandang media massa dimiliki oleh kalangan borjuis sehingga media massa dalam praktiknya hanya melayani kepentingan kalangan tersebut. Media mempromosikan terbentuknya kesadaran palsu pada kelas pekerja. Selain itu, Marxist juga beranggapan bahwa akses terhadap media saangat tertutup terhadap oposisi politik.

Media dilihat sebagai bagian dari arena ideologis dimana pendangan berbagai kelompok atau kelas dalam masyarakat bersaing satu sama lain, tetapi tetap ada kelompok yang mendominasi. Hal ini mengakibatkan kontrol yang terjadi berkembang ke arah monopoli. Media menyebarkan kepentingan kelas dominan. Marxist juga beranggapan bahwa profesional media menikmati ilusi dari otonomi yang disosialisasikan oleh budaya dominan. Para profesional media beranggapan bahwa mereka memiliki ototnomi untuk menentukan isi media, padahal kenyataanya mereka diatur oleh pemilik media maupun pihak-pihak kepentingan lainnya.

Pendekatan Marxist terhadap Media
 Pendekatan Strukturalis, yakni menekankan pada artikulasi internal mengenai sistem penandaan pada media.
 Pendekatan Ekonomi Politik, melihat bahwa kekuatan media terletak pada proses ekonomi yang mendasari kegiatan produksi manusia.
 Pendekatan Kultural, melihat bahwa kekuatan media mampu memengaruhi budaya yang berkembang di masyarakat.

Perbedaan Pluralist dan Marxist
Pluralist
• Masyarakat: terkelompokkan dan berkompetisi
• Media: sangat beragam, setara, seolah-olah independen satu sama lain, kompetitif, dan dapat siakses semua orang.
• Produksi: kreatif, bebas, original.
• Konten: beragam, berkompetisi, dan mau mendengarkn kebutuhan khalayak.
• Profesional: independen dan otonom.
• Audiens: terfragmentasi (terpecah-pecah), selektif, reaktif, dan aktif.
• Efek: banyak, tapi serinkali tidak terasa bahkan tidak ada efek.
• Kata kunci: demokrasi, liberalisme
Marxist
• Masyarakat: dikuasai oleh kelas dominant.
• Media: seragam, dibawah kepemilikan terpusat.
• Produksi: terstandarsisasi, bersifat rutin dan terkontrol.
• Konten: ditentukan oleh kelas dominan, tidak beragam, cenderung menyuarakan kepentingan kelas dominan.
• Profesional: ilusi otonomi.
• Audiens: dependen, pasif, akses terhadap media terbatas.
• Efek: kuat.
• Kata kunci: dominasi.

Sabtu, 13 Maret 2010

CULTIVATION THEORY

CULTIVATION THEORY

1.Asumsi Dasar Teori Kultivasi

Teori kultivasi (cultivation theory) pertama kali dikenalkan oleh Professor George Gerbner, seorang Dekan Emiritus dari Annenberg School for Communication di Universitas Pensylvania. Asumsi mendasar dari teori kultivasi adalah terpaan media yang terus-menerus akan memberikan gambaran dan pengaruh pada persepsi pemirsanya. Teori kultivasi dalam bentuknya yang paling mendasar, percaya bahwa televisi bertanggung jawab dalam membentuk, atau mendoktrin konsepsi pemirsanya mengenai realitas sosial yang ada disekelilingnya. Pengaruh-pengaruh dari televisi yang berlangsung secara simultan, terus-menerus, secara tersamar telah membentuk persepsi individu/audiens dalam memahami realitas sosial. Lebih jauh lagi hal tersebut akan mempengaruhi budaya kita secara keseluruhan.

Hipotesis umum dari analisis teori kultivasi adalah orang yang lebih lama ‘hidup’ dalam dunia televisi (heavy viewer) akan cenderung melihat dunia nyata seperti gambaran, nilai-nilai, potret, dan ideology yang muncul pada layar televisi. (J. Bryant and D. Zillman (Eds), 2002). Hipotesis ini menjelaskan bahwa realitas sama dengan yang ada di televisi.

Dalam riset proyek indikator budaya (cultural indicator research project) terdapat lima asumsi yang dikaji Gerbner dan koleganya (Baran, 2003 : 324-325).
Pertama, televisi secara esensial dan fundamental berbeda dari bentuk media massa lainnya. Televisi tidak menuntut melek huruf seperti pada media suratkabar, majalah dan buku. Televisi bebas biaya, sekaligus menarik karena kombinasi gambar dan suara.
Kedua, medium televisi menjadi the central cultural arm masyarakat Amerika, karena menjadi sumber sajian hiburan dan informasi.
Ketiga, persepsi seseorang akibat televisi memunculkan sikap dan opini yang spesifik tentang fakta kehidupan. Karena kebanyakan stasiun televisi mempunyai target khalayak sama, dan bergantung pada bentuk pengulangan program acara dan cerita (drama).
Keempat, fungsi utama televisi adalah untuk medium sosialisasi dan enkulturasi melalui isi tayangannya (berita, drama, iklan) sehingga pemahaman akan televisi bisa menjadi sebuah pandangan ritual/berbagi pengalaman daripada hanya sebagai medium transmisi.
Kelima, observasi, pengukuran, dan kontribusi televisi kepada budaya relatif kecil, namun demikian dampaknya signifikan.
Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para pemirsa televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak Anda tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak Anda dengan televisi, Anda belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya.

2.Konsep Teori Kultivasi

Televisi mempunyai kemampuan untuk menggambarkan apa yang terjadi, apa yang penting dalam berbagai kejadian, dan menjelaskan hubungan-hubungan serta makna yang ada di antara kejadian-kejadian itu. Dengan cara itu, televisi -begitu pula media massa lainnya- membentuk lingkungan simbolis.

Televisi berfungsi menanamkan ideologi. Usaha untuk menganalisa akibat-akibat penanaman ideologi oleh televisi inilah yang disebut dengan cultivation analysis. Misalnya, diduga bahwa makin sering seseorang menonton televisi, makin mirip persepsinya tentang realitas sosial dengan apa yang disajikan dalam televisi.
Gerbner mengemukakan konsep mainstreaming dan resonance. Mainstreaming artinya mengikuti arus. Mainstreaming dimaksudkan sebagai kesamaan di antara penonton berat (heavy viewers) pada berbagai kelompok demografis, dan perbedaan dari kesamaan itu pada penonton ringan (light viewers). Bila televisi sering kali menyajikan adegan kekerasan, maka penonton berat akan melihat dunia ini dipenuhi kekerasan. Sementara itu, penonton ringan akan melihat dunia tidak sesuram seperti yang dipersepsikan penonton berat.

Bila yang disajikan televisi itu ternyata juga cocok dengan apa yang disaksikan pemirsanya di lingkungannya, daya penanaman ideologi dari televisi ini makin kuat. Ini disebut Gerbner sebagai resonance. Penonton televisi yang tinggal di daerah yang penuh kejahatan akan makin yakin bahwa dunia yang disajikan televisi adalah dunia yang sebenarnya. Pembahasan mengenai mainstreaming dan resonance akan dibahas lebih lanjut pada penjelasan teori kultivasi.

Menurut teori kultivasi, media, khususnya televisi, merupakan sarana utama kita untuk belajar tentang masyarakat dan kultur kita. Melalui kontak kita dengan televisi (dan media lain), kita belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasaanya.

3.Penjelasan Teori Kultivasi

Penelitian kultivasi termasuk kedalam tradisi efek media dalam ilmu komunikasi. Para pakar teori ini berpendapat bahwa televisi memiliki efek yang relatif kecil akan tetapi sifatnya yang simultan maka ia memiliki efek yang memanjang, memiliki efek yang gradual, tidak secara langsung mempengaruhi akan tetapi berjalan secara kumulatif dan efek yang cukup signifikan.

Penelitian kultivasi menekankan bahwa media massa sebagai agen sosalisasi dan menyelidiki apakah penonton televisi itu lebih mempercayai apa yang disajikan televisi daripada apa yang mereka lihat sesungguhnya. Gerbner dan kawan-kawannya melihat bahwa film drama yang disajikan di televisi mempunyai sedikit pengaruh tetapi sangat penting di dalam mengubah sikap, kepercayaan, pandangan penonton yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya.

Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan dan memperkuat ide-ide dan nilai-nilai yang telah terbentuk sebelumnya di dalam masyarakat atau budaya yang telah terbentuk. Media mempertahankan dan menyebarluaskan nilai-nilai tersebut diantara anggota-anggota kebudayaan tersebut, dan mengikatnya menjadi sebuah kesatuan. Gerbner menyebutnya sebagai efek "mainstreaming" atau efek yang tendensius. Mainstreaming dalam analisis kultivasi terjadi pada pecandu berat televisi (menonton lebih dari 4 jam sehari) yang mana simbol-simbol televisi telah memonopoli dan mendominasi sumber informasi dan gagasan tentang dunia.

Para pakar teori ini memisahkan antara efek pertama "first order" dan efek kedua "second order". Efek pertama yakni mengenai keyakinan-keyakinan yang bersifat umum mengenai fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (efek pada ranah kognisi). Dalam konsep teori kultivasi mencerminkan adanya kategorisasi audiens kedalam dua jenis penikmat televisi, yakni "penonton berat/pecandu televisi" dan "penonton ringan". Pecandu berat televisi (heavy viewers), yakni pecandu berat televisi yang seakan-akan dia lebih terpengaruh atau lebih percaya kepada realitas yang dibentuk oleh media dibandingkan dengan kepercayaannya terhadap realitas yang dia alami sendiri secara langsung. Kategori penonton kedua mungkin memiliki lebih banyak sumber informasi dari pada kategori penonton yang pertama.

Resonansi (Resonance)" menjelaskan efek intensif yang kemudian akan diterima oleh audiens tentang apa yang mereka lihat di televisi adalah merupakan apa yang telah mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Resonance terjadi ketika pemirsa melihat sesuatu di televisi yang sama dengan realitas kehidupan mereka sendiri. Televisi tidak sekadar memberikan pengetahuan, atau melaporkan realitas peristiwa. Lebih dari itu, televisi berhasil menanamkan realitas bentukannya ke benak pemirsa. Sehingga menurut Perse (2001:215) efek dominan kultivasi kekerasan televisi pada individu adalah pada kognitif (meyakini tentang realitas sosial) dan afektif (takut akan kejahatan).

Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Dengan kata lain, media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakininya. Jadi, para pecandu televisi itu akan punya kecenderungan sikap yang sama satu sama lain.

Televisi, sebagaimana yang pernah dicermati oleh Gerbner, dianggap sebagai pendominasi “lingkungan simbolik” kita. Sebagaimana menurut McQual dan Windahl (1993), teori kultivasi menganggap bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari di sekitar kita, tetapi dunia itu sendiri. Gerbner (meminjam istilah Bandura) juga berpendapat bahwa gambaran tentang adegan kekerasan di televisi lebih merupakan pesan simbolik tentang hukum dan aturan. Dengan kata lain, perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian di sekitar kita. Jadi, kekerasan yang ditayangkan di televisi dianggap sebagai kekerasan yang memang sedang terjadi di dunia ini.
Tuduhan munculnya kejahatan di dalam masyarakat kadang-kadang disebut dengan “sindrome dunia makna (mean world syndrome)”. Bagi para pecandu berat televisi, dunia ini cenderung dipercaya sebagai tempat yang buruk dari pada mereka yang tidak termasuk pecandu berat televisi. Efek kultivasi memberikan kesan bahwa televisi mempunyai dampak yang sangat kuat pada diri individu. Bahkan, mereka itu menganggap bahwa lingkungan di sekitarnya sama seperti yang tergambar dalam televisi.

4.Teori Kultivasi di Kehidupan Sehari-Hari

Para penonton berat akan cenderung melihat dunia nyata seperti apa yang digambarkan di televisi. Semakin sering kita menonton suatu program televisi, kita akan semakin terpengaruh oleh program itu. Jika kita menonton acara seperti Buser, Patroli atau Sergap di televisi swasta Indonesia akan terlihat beberapa perilaku kejahatan yang dilakukan masyarakat. Dalam acara itu diketengahkan tidak sedikit kejahatan yang bisa diungkap. Dalam pandangan kultivasi dikatakan bahwa adegan yang tersaji dalam acara-acara itu menggambarkan dunia kita sebenarnya. Bahwa di Indonesia kejahatan itu sudah sedemikian mewabah dan kuantitasnya semakin meningkat. Acara itu seolah menggambarkan dunia kejahatan seperti itulah yang sebenarnya ada di Indonesia. Contoh lain, semakin sering kita menonton suatu sinetron, kita akan semakin beranggapan bahwa sinetron itu adalah suatu realitas. Jika kita sering melihat tokoh ibu tiri yang kejam di sinetron, maka di dunia nyata kita akan beranggapan bahwa ibu tiri itu kejam dan kita akan benci jika ayah kita menikah lagi.

Hawkins dan Pingree (1982) menemukan model proses kultivasi, yaitu bahwa proses kultivasi dalam pikiran kita terbagi dua, yaitu learning dan constructing. (J. Bryant and D. Zillman (Eds), 2002). Apa yang dilihat oleh audiens kemudian akan melalui tahap belajar dan diikuti tahap mengkonstruksi dalam pikiran audiens tersebut

SUMBER-SUMBER RUJUKAN
1. http://nurudin-umm.blogspot.com/2008/11/cultivation-theory-teori-kultivasi.html
2. http://eva-sweety.blogspot.com/2008/08/teori-efek-media.html
3. http://manhatan.blog.friendster.com/2006/12/
4. http://komunitasmahasiswa.info/2009/02/media-kultivasi/
5. http://nurudin.multiply.com/journal/item/31
6. http://ernams.wordpress.com/2008/07/10/teori-kultivasi.html
7. http://komunikasimassa-umy.blogspot.com/2005/06/teori-hasil-kebudayaan.html
8. http://aingkries.blogspot.com/2007/09/teori-kul.html
9. Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
10. Ardianto, Elvinaro., Lukiati Komala, Siti Karlinah. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung : Simbiosa

Selintas Tentang Televisi

Selintas Tentang Televisi
Istilah television muncul pertama kali pada Juni 1907 dalam scientific american. Sebelum itu, eksperimen penyaluran gambar disebut “visual wireless”, “visual radio” dan “electric vision”.
Efek dari televisi sebagai media penyebaran informasi telah menarik perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, pendidik, peneliti sosial, pemuka keagamaan, pekerja sosial dan siapapun yang perhatian terhadap kebiasaan dan nilai-nilai di masyarakat.
Keberadaan industri televisi seperti sekarang ini tentunya akan mempengaruhi gaya hidup kita. Seseorang yang sedang menonton televisi tidak sambil melakukan hal yang lain, tapi televisi dapat membawa kita pada dunia, mendekatkan kita pada suatu peristiwa ataupun suatu tempat di belahan dunia manapun.
Teknologi televisi, yang melengkapi suara dari radio dengan gambar, sangat merubah pola hidup dan pola belajar masyarakat. Kata televisi, yang dulu bemakna program yang dipancarkan oleh antena melalui melalui sinyal yang merambat di udara, sekarang bermakna layar televisi, dimana berbagai cara pemancaran sinyal memberikan berbagai program kepada penonton.
Industri media, tak terkecuali Televisi sangat tergantung pada pengiklan. Iklan lah yang menghidupi industri televisi. Berbagai stasiun televisi komersial berjuang berebut pengiklan agar bisa tetap hidup. Mereka menjual berbagai program andalannya guna mendapatkan pengiklan. Dan fungsi utama dari stasiun komersial adalah sebagai media periklanan.
Karena televisi dapat menjangkau jauh lebih banyak audiens daripada media lainnya, televisi dapat memasang tarif paling besar dari media manapun untk masalah iklan. Kini, stasiun televisi terkecil sekalipun merupakan operasi yang bernilai jutaan dolar.
Penemuan teknologi pertama yang mengusulkan bahwa gambar juga bisa dipancarkan adalah nipkow disk atau piringan nipkow. Paul Nipkow yang berusia 24 tahun mempatenkan “electrical telescope” temuannya di German pada tahun 1884. Dan David Sarnoff, pemilik perusahaan RCA, menjadi promotor terbesar televisi.
Iklan komersial di televisi pertama disiarkan di NBC pada tahun 1939 di pameran World’s Fair di Hall of Television. Pada tanggal 30 April 1939, pameran tersebut dibuka oleh Presiden Franklin D. Roosevelt dan menjadi presiden pertama yang muncul di televisi. RCA juga memamerkan televisi berukuran 5 inci dan 9 inci dengan harga mulai $199.50 sampai $600.
Jaringan adalah kumpulan stasiun radio dan televisi yang menawarkan program, biasanya secara bergantian, di seluruh kawasan suatu negara, selama waktu yang ditentukan.
Sejak Tahun 1945, sepuluh televisi telah mengudara di Amerika Serikat. Penggantian radio dengan TV hitam putih sangatlah pesat sehingga mengagetkan para pemilik biro iklan dan membahayakan keberlangsungan biro iklan radio. Di akhir tahun tersebut, TV bahkan menguasai 41% pasar penyiaran. Hal ini menyebabkan radio mengalami kemunduran sehingga banyak pengiklan yang beralih ke televisi dan bahkan program-program unggulan di radio diadopsi kedalam bentuk program televisi.
Televisi mengalami perkembangan secara dramatis, terutama melalui pertumbuhan televisi kabel. Transmisi program televisi kabel menjangkau seluruh pelosok negeri dengan bantuan satelit dan diterima langsung pada layar televisi di rumah dengan menggunakan wire atau microwave wireless cables) yang membuka tambahan saluran televisi bagi pemirsa. Televisi tambah marak lagi setelah dikembangkannya Direct Broadcast Satellite (DBS). Televisi terus berkembang seiring dengan semakin bervariasinya program-program yang ditayangkan seperti program kuis, variety shows, komedi situasi, drama, film, opera sabun, talk show, bahkan program koboi dan cerita detektif yang sangat menarik di Amerika pada saat itu.
Tahun 1948 merupakan tahun yang penting dalam dunia pertlevisian, dengan adanya perubahan dari televisi eksperimen ke televisi komersial di Amerika. Karena perkembangan televisi yang sangat cepat, dari waktu ke waktu media ini memilki dampak terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.
Penonton menentukan rating yang mempengaruhi sebuah program televisi. Perusahaan televisi berupaya menarik penonton melalui program-program andalannya. Mereka terus mengembangkan program sehingga semakin menarik dan mendapat banyak khalayak. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan rating yang bagus untuk kemudian rating ini dijual ke pengiklan sehingga televisi bisa terus hidup.
Kini, televisi telah mendominasi industri media. Dan industri televisi telah menjadi lahan bisnis yang sangat potensial. Hal ini menyebabkan banyak orang ingin bekerja dan berinvestasi pada industri ini. Hal ini tak lepas dari perkembangan teknologi yang sangat mendukung perkembangan industri media.
Dalam suatu stasiun televisi, terdapat delapan departemen yakni departemen penjualan, departemen pemograman, departemen produksi, departemen teknik, departemen perdagangan, departemen promosi, departemen hubungan publik, dan departemen administrasi.
Seiring dengan perkembangan teknologi, penyampaian program menjadi semakin mudah dan murah. Teknologi baru juga mendatangkan lebih banyak persaingan. Teknologi baru itu diantaranya adalah Digital Video Recorders (DVRs) dan High-Definition Television (HDTV).
Rating
Televisi kini menjadi sebuah institusi indusdtri yang berupaya mendatangkan keuntungan. Mereka bersaing mempertontonkan program terbaiknya guna meraih penonton sebanyak-banyaknya. Hal ini ditujukan guna meraih rating yang dapat dijual kepada pengiklan. Rating menunjukkan bahwa suatu program diminati oleh penonton, dan tidak terpaku pada kualitas dari program tersebut. Rating yang bagus menandakan bahwa program tersebuat banyak peminatnya sehingga menguntungkan bagi para pengiklan yang hendak memasang iklannya pada saat program itu berjalan karena banyak ditonton oleh khalayak.
Para pengiklan tentu menginginkan produknya dilihat oleh banyak target pasarnya. Hal ini menyebabkan para pengiklan melihat rating sebagai ukuran “daya jual” suatu program. Sehingga pengiklan cenderung beriklan pada program yang ratingnya bagus, dan sesuai dengan target pasarnya. Hal ini berimbas pada tarif space iklan pada program tersebut lebih mahal dibandingkan dengan program yang memiliki rating kurang bagus. Dan pada program yang memiliki rating lebih bagus akan terdapat lebih banyak iklan daripada program yang memiliki rating kurang bagus.
Rating berbeda dengan share. Rating adalah persentase suatu program terhadap banyaknya TV yang ada. Share adalah persentase TV yang dinyalakan pada waktu tertentu.
Kesimpulan
Televisi adalah media yang paling mendominasi saat ini. Televisi merupakan media yang lengkap karena berupa audiovisual sehingga menjadi sarana hiburan dan informasi yang menarik. Dari semua media komunikasi yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Tayangan televisi yang dijejali hiburan, berita dan iklan telah membuat banyak orang menghabiskan waktu untuk menonton televisi sekitar tujuh jam sehari (Agee, et all. 2001:279). Hal ini menandakan bahwa televisi menjadi media yang sangat digemari masyarakat. Perkembangan televisi dengan kualitas yang semakin baik juga telah membuat kita semakin nyaman menonton.
Penghitungan rating dipengaruhi oleh penonton yang dipilih secara acak, dan mempengaruhi pengiklan. Rating bagus untuk meningkatkan persaingan sehingga muncul berbagai kreativitas untuk menciptakan program-program televisi yang semenarik mungkin, dan menonjol dibandingkan program lain. Hal ini menyebabkan para pengiklan cenderung memasang iklan mereka pada program yang memiliki rating bagus. Namun, tak seharusnya selalu seperti itu. Para pengiklan haruslah lebih jeli melihat segmentasi mereka sehingga mereka akan memilih untuk memasang iklan pada program yang sesuai dengan segmentasinya. Hal ini saya rasa lebih efektif jika dibandingkan dengan menentukan space untuk beriklan dengan melihat rating programnya. Jadi, akan kurang efektif jika pengiklan memasang iklan pada program yang ratingnya bagus tapi tidak sesuai dengan segmentasi pasar.