Dalam memandang media, terdapat dua buah sudut pandang yang berkembang, yakni Pluralist View dan Marxist View. Berdasarkan perspektif sosiologis, Pluralist condong kearah liberalis, sedangkan Marxist lebih condong kepada pendekatan kritis. Kedua pandangan ini akan coba saya bahas disini.
Pluralist View
Seperti yang diutarakan oleh Curran and Gurevitch (1982), Pluralist mengasumsikan masyarakat sebagai orang-orang yang bergabung bersama-sama. Masyarakat terdiri dari berbagai kelompok yang beragam namun tetap berada dalam suatu keseimbangan dan kekuasaan atas berbagai faktor produksi yang sama. Di dalam masyarakat yang beragam ini, tidak terdapat suatu kelompok yang mendominasi. Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk bisa didengar. Selain itu, masing-masing individu dianggap memiliki kemampuan dan potensi yang sama, sehingga diperlukan suatu persaingan.
Dalam pandangan Pluralist, pemerintah hanya mengelola masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan dan keadilan mereka. Pemerintah diibaratkan sebagai wasit yang memimpin masyarakat, menegakkan peraturan yang telah diciptakan, dan memberikan hukuman bila terdapat suatu pelanggaran. Pemerintah tidak menciptakan peraturan-peraturan untuk masyarakat, hanya sebagai penegak keadilan guna kesejahteraan masyarakat. Pemerintah merupakan pihak yang tidak berpihak pada siapapun.
Kegiatan politik dipandang sebagai kegiatan yang independen, terbebas dari berbagai urusan ekonomi. Masyarakat kaya maupun masyarakat miskin diperlakukan sama di depan hukum dan pemerintahan.
Asumsi Pluralist Terhadap Media
Pluralist memandang bahwa media memberikan kesempatan kepada semua orang untuk menyuarakan pendapat dan pandangannya. Media merupakan sebuah forum terbuka bagi masyarakat yang independen dari berbagai kekuatan ekonomi dan pemerintahan. Media berperan dalam memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas atau tindakan.
Pluralist mengasumsikan bahwa informasi itu merupakan suatu pengetahuan, hal yang penting untuk masyarakat ketahui, dan bukan suatu hasil konstruksi berbagai kelompok berkepentingan. Pluralist juga melihat organisasi media sebagai suatu sistem organisasi yang terikat dan otonom (institusi otonom). Media mampu untuk mengungkapkan fakta yang sebenar-benarnya. Kalangan manajerial media dianggap sebagai orang-orang yang profesional dan memiliki otonomi dan kebebasan dalam menentukan isi media secara profesional.
Dalam pandangan Pluralist, masyarakat dianggap mampu melihat manipulasi media sehingga mereka mampu untuk menentukan prioritasnya.
Pluralist Model

Media terlihat sebagai ajang kompetisi dan kepentingan yang relatif otonom.
Marxist View
Pandangan Marxist sangat bersebrangan dengan Pluralist. Pandangan ini dipelopori oleh Karl Marx, seorang filsuf berkebangsaan Jerman. Marx beranggapan bahwa dalam masyarakat terdapat masyarakat yang dominan dan yang didominasi. Hal ini memperlihatkan bahwa ada ketidaksetaraan dalam masyarakat. Marx mempersoalkan modal sebagai faktor produksi. Masyarakat sangat dipengaruhi oleh ekonomi. Selain itu, ia juga beranggapan bahwa media tidak memberikan pilihan kepada udiensnya.
Marxist memandang bahwa pihak yang menguasai faktor-faktor produksi (material) akan menguasai sektor-sektor kehidupan lainnya termasuk produksi mental masyarakat. Marxist memandang media massa dimiliki oleh kalangan borjuis sehingga media massa dalam praktiknya hanya melayani kepentingan kalangan tersebut. Media mempromosikan terbentuknya kesadaran palsu pada kelas pekerja. Selain itu, Marxist juga beranggapan bahwa akses terhadap media saangat tertutup terhadap oposisi politik.
Media dilihat sebagai bagian dari arena ideologis dimana pendangan berbagai kelompok atau kelas dalam masyarakat bersaing satu sama lain, tetapi tetap ada kelompok yang mendominasi. Hal ini mengakibatkan kontrol yang terjadi berkembang ke arah monopoli. Media menyebarkan kepentingan kelas dominan. Marxist juga beranggapan bahwa profesional media menikmati ilusi dari otonomi yang disosialisasikan oleh budaya dominan. Para profesional media beranggapan bahwa mereka memiliki ototnomi untuk menentukan isi media, padahal kenyataanya mereka diatur oleh pemilik media maupun pihak-pihak kepentingan lainnya.
Pendekatan Marxist terhadap Media
Pendekatan Strukturalis, yakni menekankan pada artikulasi internal mengenai sistem penandaan pada media.
Pendekatan Ekonomi Politik, melihat bahwa kekuatan media terletak pada proses ekonomi yang mendasari kegiatan produksi manusia.
Pendekatan Kultural, melihat bahwa kekuatan media mampu memengaruhi budaya yang berkembang di masyarakat.
Perbedaan Pluralist dan Marxist
Pluralist
• Masyarakat: terkelompokkan dan berkompetisi
• Media: sangat beragam, setara, seolah-olah independen satu sama lain, kompetitif, dan dapat siakses semua orang.
• Produksi: kreatif, bebas, original.
• Konten: beragam, berkompetisi, dan mau mendengarkn kebutuhan khalayak.
• Profesional: independen dan otonom.
• Audiens: terfragmentasi (terpecah-pecah), selektif, reaktif, dan aktif.
• Efek: banyak, tapi serinkali tidak terasa bahkan tidak ada efek.
• Kata kunci: demokrasi, liberalisme
Marxist
• Masyarakat: dikuasai oleh kelas dominant.
• Media: seragam, dibawah kepemilikan terpusat.
• Produksi: terstandarsisasi, bersifat rutin dan terkontrol.
• Konten: ditentukan oleh kelas dominan, tidak beragam, cenderung menyuarakan kepentingan kelas dominan.
• Profesional: ilusi otonomi.
• Audiens: dependen, pasif, akses terhadap media terbatas.
• Efek: kuat.
• Kata kunci: dominasi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar